Sabtu, 23 Oktober 2010

Cerita Pendek

SENYUMAN 2 DUNIA

KARYA
NASTITI S.F
            Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung dengan hidupku,apakah aku harus berlarut-larut dengan kelajanganku selama ini, kapan aku bertemu dengan pendamping hidupku nanti?beri aku saran..!aku benar-benar pusing.
            Tapi agar jelas, aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
            Aku lahir dari keluarga yang tahu syari’at agama, bangga dengan agama yang kita peluk dan juga menjunjung tinggi silaturrahmi dalam keluarga besar.
            Di sekolah, mulai Madrasah Ibtidaiah sampai dengan Madrasah Aliyah, Alhamdulillah aku selalu mendapatkan juara favorit di sekolah. Di Universitas Airlangga pun aku salah satu lulusan terbaik dengan IP 3,5. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan asing di Bandung. Dan aku tinggal di Bandung.
            Umurku kian lama kian tua. Kesuksesan telah kucapai atas campur tangan Allah swt. Tapi mengapa aku belum di pertemukan jodohku,padahal setiap malam aku selalu bersujud di hadapan sang Rabb untuk mengharapkan datangnya seseorang yang akan mendampingiku. Inilah saatnya aku mencari seorang wanita yang mau menerima khitbahku.
             Entah mengapa aku di hadapkan kepada kenyataan untuk selalu bertegur sapa dengan seorang wanita yang sangat cantik,lembut tutur katanya dan santun perilakunya. Kemeja yang dikenakannya sangat rapi,rambutnya diikat dan dia juga berkaca mata bak kutu buku yang sering membaca hingga kaca matanyapun terlihat tebal. Akupun semakin yakin untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya. Hingga pada suatu hari disaat aku duduk di salah satu kafe depan kantor tempatku bekerja untuk makan siang. Dia terlihat kebingungan mencari tempat duduk.  Aku hanya terdiam walaupun aku tidak tega melihatnya kebingungan dengan membawa seporsi makanan dan air putih. Akupun mempercepat laju makanku dengan niat agar dia duduk di bangku yang telah aku tempati.
            Setelah makan aku langsung segera meninggalkan bangku yang telah aku tempati.dan wanita itupun duduk di bangku yang sebelumnya telah aku tempati untuk menyantap makan siangku itu.
            Dari kejauhan aku terus memperhatikannya sampai dia selesai makan. Dia segera bergegas untuk menghampiri  bangku kafe yang sebelumnya aku tempati untuk menyantab makan siang. Karena rasa penasaran yang terus menerus mengikutiku, akupun mengikutinya. Dia berjalan bak seorang model yang berlenggak lenggok di panggung catwalk. “astaghfirullah…semoga dia tidak menggetarkan hatiku dengan lenggak-lenggok laku jalannya”!! Aku mengelus dadaku dan menundukkan kepalaku. Sampai aku gundah apakah aku harus mengikutinya demi rasa penasaranku ataukah aku harus kembali ke kantor agar tidak terjadi hal-hal yang membuatku buta akan pandanganku.
Akupun memutuskan untuk kembali kekantor sembari ku berjalan dengan menundukkan kepala aku terus bertanya-tanya “siapakah dia? mengapa aku selalu bertemu dia?Apakah dia seseorang yang dikirim Allah untuk menjadi jodohku?” pertanyaan itupun selalu menghantuiku di setiap langkah kakiku berjalan menuju kantor.
Sampailah saatnya waktu jam kerja selesai. Aku bergegas pulang ke rumah. Di saatku menuju mobil yang biasa menemaniku di saat pergi dan pulang dari kantor. Aku melihat dirinya menaiki sepeda motor matic berwarna merah. “mengapa dia disini?apa dia akan menjemput seseorang?” perasaanku seolah-olah terus bertanya-tanya ketika melihat dia… “ah mungkin dia menjemput temannya!”
Akupun masuk kedalam mobil tanpa berpikir panjang memikirkan hal-hal disekitarku.
Sekitar 15 menit dalam perjalanan terdengar suara seruan adzan maghrib. Akupun berhenti di depan masjid yang sangat sepi pengunjung untuk datang bersimpuh sujud kepada sang Illahi untuk menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Masjid yang sangat sedikit jama’ahnya, padahal sangat besar masjid itu.
Setelah aku sholat maghrib berjama’ah di masjid itu. Akupun bertemu dengan murabi’ yang dulu pernah mengisi halaqah di masjid sekolah sewaktu di Madrasah Aliyah.
”assalamualaikum ya akhy…??bagaimana kabarnya akhy..?” sembari ku menjabat tangannya yang tampak pangling dengan wajahku.
“wa’alaikum salam..alhamdulillah baik..!kalau tidak salah ini dek Ridwan ya?” sahutnya dengan memelototkan matanya yang tampak pangling d depan mukaku.
            “iya akhy…ini ana..Ridwan..!” jawabku dengan tersenyum.
            “subhanallah….kebetulan sekali ya kita bertemu disini?nggak nyangka bisa ketemu setelah sekian lama tidak bertegur sapa!” dengan tangannya yang menepuk punggungku dengan lembut.
            Akupun banyak bicara dengannya untuk melepas rindu setelah kurang lebih 4 tahun tidak bertemu.
            Sampai akhirnya aku bercerita dengannya tentang wanita yang sering aku temui dengan tidak sengaja itu.
            “ustad..aku ingin bercerita tentang seorang akhwat yang sering aku temui dengan tidak sengaja itu”
            “ceritanya bagaimana dek?” jawabnya dengan wajah yang sangat antusias untuk mendengar ceritaku.
“begini ustad…setiap aku makan siang di kafe dekat kantorku dan juga saat pulang sekolah. Bahkan saat di jalanpun saya sering bertemu dengannya. Apa ini jawaban Allah dikala aku selalu meminta-Nya untuk dipertemukan seorang jodoh untuk mendampingiku ustad?”
            “ya..saya mengerti maksud ceritamu. Mungkin dia memang jodohmu..mungkin juga hanya kebetulah saja kamu sering bertemunya. Jika kamu jatuh hati dengannya..cari tau dia siapa, dan keluarganya tinggal dimana. Jangan sampai apa yang kamu cari tahu tentang dia itu membuat dia merasa tidak nyaman. Dan jangan sampai kau mendekatinya hanya ingin memilikinya. Karena bisa saja itu hanya akan menimbulkan fitnah. Kamu mengerti itu dek?”
            “ mengerti ustad.. sayapun juga merasa begitu..tetapi saya bingung harus bagaimana?karena setiap saya bertemu dengannya, yang ada hanyalah pertanyaan dan pertanyaan yang berada di fikiranku ustad?”
            “wajar saja jika begitu, asalkan kamu tidak melampaui batasan-batasan hukum islam yang telah di tetapkan!” jawabnya dengan senyum yang meringankan hatiku.
            Setelah berlama-lama aku bercerita dengannya sampai lupa waktu, adzan Isya’pun berkumandang, aku dan murabi’ku bergegas meninggalkan teras masjid dan menuju tempat wudhlu.
            Setelah aku meninggalkan masjid dan berpamitan dengan murabi’ku, aku pulang dengan perasaan yang lega karena telah mendapatkan saran.
            Besoknya. Aku berangkat ke kantor dari rumah. Di jalan aku melihatnya berboncengan dengan kawannya yang satu kantor denganku.
            Setelah aku sampai di kantor. Aku mencoba bertanya kepada teman yang di bonceng wanita itu. Sari namanya.
            “Sar..tadi kamu boncengan dengan siapa?” sembari aku berjalan di samping kanannya
            “ooo..dia itu teman satu kos ku” jawabnya dengan senyum.
            Aku pun semakin penasaran dengan wanita itu.
            Jam makan siang telah tiba. Aku beranjak dari ruang kerjaku untuk ke kantin depan kantor. Lagi-lagi aku bertemu dengannya.
            Setelah dia makan siang. Dia meninggalkan bangku kafe tempat dia menyantab makanannya. Akupun mencoba mengikutinya.
            Ternyata dia berhenti di sebuah gereja yang besar yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Fikiran negatifpun bermunculan.
            Setelah aku bertanya kepada salah satu pengurus gereja tersebut. Tenyata wanita itu adalah salah satu pengurus gereja yang sering melantunkan lagu rohani di gereja itu.
            Hatiku pun seperti hancur dan sangat sakit. Ternyata orang yang selama ini aku yakini sebagai jodohku, dia seorang nasrani. Akupun terus beristighfar  selama berjalan meninggalkan gereja itu dan menuju kantor.
            Betapa hancurnya hatiku saat mendengar  pernyataan salah satu pengurus gereja itu. Bisa dikatakan hatiku telah terpaut dengannya. Sekian lama aku memperhatikannya. Tapi mengapa ini hasil yang harus aku terima.
            Malamnya pun aku shalat istikharah untuk mendapatkan jawaban atas apa yang telah aku terima. Apa aku salah mencintainya? Apa aku salah berfikir kalau dia adalah jodohku selama ini.
            Hari demi hari telah aku lalui dengan lalu lalangnya dia di fikiranku dan di setiap ayat-ayat Al-Qur’an yang setiap hari ku baca.
            Suatu hari porsi makan siangku tertukar dengan porsi makan siang yang menjadi andalannya itu.
            “maaf…makanan yang anda bawa itu adalah makanan saya, bolehkah saya menukar dengan makanan yang telah anda bawa itu?kelihatannya ini juga makanan anda?” kata-kata  pertamanya padaku.
            “maaf mbak..saya tidak sengaja mengambil makanan anda. Saya kira ini sudah makanan saya.” Sembari ku menukarkan makanannya dengan makananku.
            Setelah kejadian itu. Aku dan diapun sering satu bangku saat makan siang.
            Dia pribadi yang sangat menarik. Mudah bergaul dan sangat lembut tutur katanya. Sandra namanya. Andai saja dia satu dunia denganku. Pasti aku akan mengkhitbahnya saat itu juga. Tetapi takdir berkata lain. Dia berada di dunia nasrani yang jauh akan norma-norma islami yang selama ini aku patuhi.
            Hatiku serasa tersayat-sayat ketika ingat bahwa dia adalah seorang nasrani dengan iman yang kuat. Akupun semakin gundah akan perasaanku.
            Dari pada aku terus-terusan berkecamuk dengan perasaan ini. Aku mencoba untuk mencari jodohku yang lain. Tetapi mengapa wanita itu terus mengisi fikiranku. Padahal banyak akhwat- akhawat yang mengkhitbahku, tapi mengapa tidak ada satupun yang menarik perhatian untuk ku terima khitbahnya.
            Hingga pada suatu siang seperti biasanya di kafe tempat makan siangku. Aku bertemu Sandra lagi. Dia menghampiriku dengan senyum yang menyejukkan hatiku. Semakin senangnya hati ini saat bertemu dengannya. Entah mengapa istighfarpun tak terbenak dalam fikiranku. Apakah setan terlalu senang membisikan lembut godaan-godaan yang membuatku buta akan sebuah cinta.
            Di saat aku dan dia asik ngobrol. Tiba-tiba dia mengungkapkan perasaanya kalau dia jatuh hati denganku, padahal dia tahu aku dan dia berbeda agama. Dan ternyata dia juga merasakan apa yang aku rasakan selama kita saling bertemu. Entah mengapa bibirku serasa kikuk untuk berucap. “akupun juga merasakan seperti itu!” entah mengapa kata-kata itu malah keluar dari bibirku.
            Setelah kejadian itu. Aku dan dirinya semakin dekat tanpa ada hubungan yang jelas. Agama yang berbeda tidak membedakan pemikiranku dengannya. Semakin kompaklah kita. Dan semakin bimbanglah aku dengan perasaanku.
            Suatu hari aku berkunjung ke rumah ayah dan ibu di Jember. Akupun melepas rinduku dengan bersimpuh di kaki mereka yang umurnya lebih dari setengah abad.
            Setelah aku melepas rindu dengan mereka. Akupun  memberanikan diri untuk meminta mereka dengan hormat untuk mengkhitbah wanita nasrani yang aku cintai itu.
            Tetapi mereka berkehendak lain. Mereka tidak menyetujui aku mengkhitbahnya. Terutama abahku. “apa kamu mau mempermalukan keluarga kita le.? Suami sibuk dengan pekerjaanya dan sangat patuh akan agamanya tetapi istri sibuk mengurusi gereja dan seluruh aktifitas nasraninya itu? Mau jadi apa keluargamu nanti le?” kata abah yang mencengkeramkan tangannya di hadapanku dengan sangat marah.
            “lagian kamu itu sudah kita jodohkan dengan Alifah anak pak kyai teman abahmu  yang  lulusan UI itu lo le?sekarang dia bekerja di Rumah Sakit Umum Dokter Saidiman Surabaya.” Sahut umiku yang mengelus-elus rambutku.
            Semakin gundah saja perasaan ini. Semakin bingung apa yang harus aku lakukan. Aku mencintai Sandra. Dilain pihak  aku telah di jodohkan dengan anak kyai teman abahku.
            Setelah 2 hari aku berada di Jember. Aku kembali ke Bandung dengan segudang rutinitas kerja dan melihat sosok Sandra dengan kenasraniannya itu.
            Setelah aku sampai di rumah. Aku membuka pintu rumahku. Tiba-tiba aku di kejutkan dengan adanya surat di bawah pintu. Aku ambil surat itu dan aku baca. Ternyata itu surat dari Sandra. Inti surat itu adalah, dia sangat mencintaiku dan dia tertarik dengan pribadiku yang terlahir dari keluarga muslim sedangkan dia dari keluarga yang sangat kental dengan kenasranian mereka.
            Aku berfikir jika aku sampai jadi imamnya, aku akan menjadikan dia seorang mualaf, dan mengikuti jejakku untuk memperdalam ilmu agama islam yang selama ini aku tekuni. Dan aku akan menjadikannya lebih dari anak kyai yang di jodohkan denganku. Itulah benakku saat aku membaca suratnya.
            Tetapi surat itu tidak sampai disitu, di paragraf selanjutnya. Dia ingin menikah denganku, tetapi dia ingin maupun ada perbedaan pada agama tetapi tidak ada perbedaan dalam perasaan.
            Aku semakin bingung dengan semua ini. Aku ingin mengakhiri problema ini dengan akhir yang bahagia. Tetapi aku harus bergelut dengan masalah yang semakin membelit.
            Besoknya, saat jam makan siang tiba. Aku bertemu dengan Sandra. Dia menghampiriku dengan senyum yang menyejukkan hati seperti biasa dia memberiku senyum saat bertemu. Aku senang bertemu dengannya, tetapi aku bingung apa yang harus aku pilih antara dia atau perjodohan abah dan umi.
            “sudah baca surat yang aku selipkan di bawah pintu rumahmu?bagaimana jawabanmu?” dengan wajahnya yang berbinar penuh harapan.
            “aku sudah baca surat kamu. Aku masih perlu memikirkannya. Aku telah di jodohkan. Tetapi aku masih bimbang antara perjodohan itu ataukah kamu.” Dengan menundukan kepala berharap dia mengerti dengan keadaanku.
            “iya..aku mengerti maksudmu. Aku hanya mencurahkan isi hatiku yang selama ini aku pendam!” dengan memalingkan mukanya.
            Aku hanya bisa diam melihatnya yang memalingkan muka dan mungkin dengan perasaan kesal.
            Tiba-tiba hp’ku bordering, incoming call.
            Ternyata abah memberitahukan bahwa Alifah akan di tugaskan selama 2 minggu di Bandung. Dan aku harus menjemputnya di bandara.
            Saat itu juga aku pamit ke Sandra untuk menyudahi makan dan bergegas ke bandara untuk menjemput Alifah.
            Setelah sampai di bandara. Ternyata alifah sudah menunggu di depan pintu utama kedatangan. Ku lambaikan tanganku agar dia mengerti bahwa aku sudah menjemputnya. Alifah menghampiriku dengan muka yang terlihat letih.
            “mas Ridwan kan?” sembari berjalan menghampiriku.
            “iya..ayo ku antar mencari kos?” dengan membawakan kopernya.
            Selama di perjalanan dia terlihat letih.
            “aku tahu tempat kos perempuan di bandung yang dekat Rumah Sakit Islam Al-Ihsan.”
            “terimakasih mas.” Jawabnya dengan tutur kata yang lembut.
            Setelah aku mengantarkan dia ke kosnya. Aku bergegas pulang.
            Sesampainya di rumah begitu kagetnya aku melihat abah dan umi yang menunggu di teras rumahku. Segeralah aku membukakan pintu dan mempersilahkan abah dan umi masuk kerumah ku.
            Ternyata maksud dan kedatangan abah dan umi ke Bandung, untuk merencanakan pernikahanku dengan alifah. Betapa kagetnya aku atas pernyataan itu. Tak kusangka abah dan umi bertindak cepat atas masalahku ini.
Malamnya, aku shalat istikharah. Tapi mungkin ini jawabannya. Aku tidak ingin durhaka kepada orang tua. Mungin ini keputusan yang terbaik yang harus aku ambil.
            Bismillahirrahmanirrahim. Aku memutuskan untuk menuruti permintaan abah dan umi.
            Besoknya sebelum aku berangkat ke kantor. Aku membicarakan keputusanku ini kepada abah dan umi.
            Betapa senangnya hati abah dan umi atas pernyataanku ini. Tetapi betapa sakitnya aku atas pernyataanku ini. Dan mereka memutuskan untuk mengkhitbah Alifah besok malam.
            Saat jam makan kantor tiba. Seperti biasa Sandra menghampiriku dengan senyumnya. Betapa tidak relanya aku meninggalkan senyumnya itu. Hatiku terlanjur terpaut dengan wanita nasrani itu. Tetapi keputusan telah aku ambil. Dan aku harus menerima konsekuen dari keputusanku.
            Aku mengatakan kepada Sandra bahwa aku akan melamar seorang anak kyai besok malam.
            Tidak sampai hati aku melihatnya menangis dengan tersedu-sedu. Dia terlihat sangat kecewa dengan pernyataanku.
            Besok malamnya. Aku mengkhitbah alifah di kosnya bersama abah dan umi. Dan ternyata abah dan umi alifah sudah berada di kosnya.
            Sudah sah lah aku menjadi suami alifah. Perempuan yang tidak aku cintai. Yang aku fikirkan hanyalah Sandra dan Sandra.
            Besok paginya. Aku melangsungkan pernikahan yang di selenggarakan di rumahku. Ternyata Sandra datang ke pernikahanku. Betapa tak teganya aku melihat air mata yang terus menerus menetes di pipinya. Betapa sedihnya aku melihat orang yang aku cintai menderita atas pernikahanku ini.
            Sorenya. Aku mendengar berita bahwa Sandra masuk rumah sakit. Aku bergegas meninggalkan rumah dan alifah untuk melihat keadaan Sandra di rumah sakit.
            Dia di rawat di UGD. Kemungkinan kecil tidak dapat tertolong lagi.
            “ Ridwan. Maukah kamu masuk ke ruangan Sandra. Dia ingin bertemu denganmu. Mungkin dia ingin mengucapkan kata-kata terakhirnya kepadamu.” Dengan penuh percaya diri Sari mengatakan itu padaku.
            “bicara apa kamu Sar.., aku akan masuk ke ruangan itu dan berharap dia tidak mengucapkan kata-kata terakhirnya untukku.” Jawabku dengan meninggikan nada bicaraku.
            Aku bergegas masuk kedalam ruangan dimana Sandra di rawat. Dia melihatku dengan senyumnya yang menyejukkan hati. Senyum yang biasa di berikan padaku.
            “ mas Ridwan..aku sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk menjengukku. Mas..aku ingin mengucapkan satu kalimat yang menjadi syarat untuk masuk islam.” Dengan nada yang terbata-bata.
            Betapa senangnya aku. Air mataku tidak dapat terbendung lagi. Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya itu.
            Dengan senang hati aku mengucapkan kalimat syahadat. Diapun menirukan kalimat syahadat yang telah aku ucapkan.
            Tersenyumlah dia setelah mengucapkan kalimat syahadat itu. Dan akupun membalas senyumnya itu dengan berurai air mata.
            Tapi kehendak berkata lain. Senyumnya itu adalah senyumnya yang terakhir kali dia berikan padaku.
            Innalillahi wainnailaihiroji’un..
            Sang Illahi telah memanggilnya di atas kalimat syahadat dan senyumannya. Betapa sakitnya hati ini ditinggalnya pergi mengahadap Allah swt.
            Subhanallah…betapa cintanya Allah kepada Sandra. Allah memanggilnya setelah dia mengucapkan kalimat syahadat.
            Sejak saat itu. Aku yakin dengan cintaku kepada Sandra. Tetapi aku harus lebih mencintai Alifah yang telah menjadi pendamping hidupku.
            Aku yakin. Sandra akan tenang di pangkuan sang Illahi.
            Amin ya rabbal alamin.